twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)
Showing posts with label thoughts. Show all posts
Showing posts with label thoughts. Show all posts

Monday, August 27, 2012

Time After Time


Happiness isn't about getting what you want all the time, it's about loving what you have. And if you don't do stupid things while you're young, you'll have nothing to smile about when you're old.

Friday, August 24, 2012

Someone Watches You

When situation gets you down, remember there's Someone in Heaven who loves you and watches over you and there's someone on Earth who cares.


Saturday, January 29, 2011

Up-Date Status

Saat membaca sebuah surat kabar harian daerah, saya tertarik dengan sebuah headline di Koran tersebut, “Gara-Gara Upload Status Di Facebook, Seorang Siswi SMP Disuruh Pindah Sekolah”. Berita ini mengingatkan saya akan berita yang kurang lebih sama, tapi kali ini menimpa seorang Pegawai Negeri Sipil yang dipecat karena mengkritik jalannya pemerintahan di tempat dia bekerja. Terkait dengan si PNS, saya lupa bagaimana cara dia mengkritik tempat dia bekerja, tetapi siswi tersebut mengupdate statusnya dengan mengatakan bahwa pelajaran si ibu guru tersebut membosankan, dan kegiatan tersebut dilakukan pada saat sang guru sedang menyampaikan pelajarannya. Siswi tersebut dan orangtuanya dipanggil pihak sekolah dan solusinya agar siswi tersebut pindah dari sekolah tersebut. Kegiatan yang dilakukan siswi maupun PNS tersebut sudah bisa dikategorikan sebagai cyberharrasment (pelecehan).

Hal-hal seperti ini sebenarnya sudah bukan berita yang baru lagi, sudah banyak kita baca dan tonton, tetapi hal ini tetap terus terjadi. Sepertinya tidak ada pelajaran yang diambil dari semua peristiwa yang terjadi sebagai dampak dari kemajuan teknologi ini. Mungkin dulu, media yang kita gunakan untuk menyampaikannya melalui telepon seluler, yang mungkin tingkat “kebocoran” informasinya sangat kecil sekali, kecuali ponsel tersebut diperiksa isinya. Tetapi menyampaikannya melalui jejaring sosial seperti facebook maupun twitter, kita harus tahu apa resiko yang akan kita terima setiap kita mem-posting sesuatu, karena begitu kita melakukannya maka seluruh dunia akan mengetahuinya. Kita harus siap menerima hal-hal yang terburuk, karena hal yang baik selalu kita terima dengan senang hati.

Teman saya selalu melakukan tindakan yang berbahaya bagi karirnya. Status FB-nya selalu menyampaikan sesuatu yang tidak mengenakkan, baik bagi teman sekantornya maupun atasannya dan atasan pasangannya. Melalui update statusnya di facebook baru saya tahu ternyata emosinya itu meledak-ledak, diibaratkan seperti knalpot bolong sepeda motor yang dikendarai anak-anak muda yang mencari jati dirinya. Wah..wah..wah.. jika saja ada yang tidak suka terhadap teman saya itu, sangat mudah sekali untuk menjatuhkannya, lebih repot lagi kalau terimbas ke karir suaminya, karena semua komentar tersebut tersaji dengan lengkap di statusnya dan bisa dilihat diseluruh akun FB teman-temannya (itu kalau dia belum menghapusnya). Tinggal di-print, disampaikan kepada orang yang dibicarakan, selesai sudah. Bye..bye.. promosi jabatan.. Degradasi ke Serie-B.

Hal ini kemungkinan besar dilakukan oleh orang-orang yang tidak mengerti dengan benar teknologi yang dia gunakan. Beli gadget/handphone yang teknologi tinggi, tapi hanya bisa digunakan untuk nelepon dan sms saja, fasilitas dan fitur-fitur lainnya hanya dekorasi saja. Terkait dengan facebook, pengaturan di akun facebooknya tidak diatur untuk menjaga keamanan informasinya agar hanya teman-nya saja yang bisa melihat statusnya. Bisa juga dia tidak tahu walaupun orang tersebut, misalkan si-X bukan teman kita di FB, si-X masih bisa melihat statusnya karena si-X teman dari teman kita karena dia tidak mengatur settingannya. Bisa saja si-X tersebut atasan kita di kantor, guru, dosen ataupun polisi, yang postingannya menyangkut orang-orang tersebut. Selesailah sudah..

Diskusi yang biasanya dimulai dengan menyampaikan pendapat secara biasa, layaknya orang-orang yang diajar orangtuanya untuk santun dalam menyampaikan pendapat, sering berkembang dan melebar menjadi ajang nyanyian burung gagak yang menyakitkan telinga dan menganggu ketenangan hati individu yang sedang dibicarakan. Bila Presiden RI yang didiskusikan, rakyatnya yang mencemooh, rakyatnya pasti tidak akan mendapat tuntutan, tetapi lain ceritanya kalau menterinya yang mencemooh, bisa dipastikan sang menteri dicopot dari jabatannya. Bila sang pendidik yang dibicarakan, yang di-didik mencemooh, kalau peristiwa pindah sekolah tidak terjadi seperti siswi yang diberitakan di koran tersebut, minimal nilai pelajaran dari sang guru pasti jelek, terkait dengan etika dan tidak fokus pada saat pelajaran berlangsung, kata sang pendidik. Bila sang atasan yang dibicarakan, si pegawai tersebut siap-siap membereskan mejanya dari kantor untuk mencari pekerjaan yang lain.

Yang paling konyol sebenarnya, bila si pelaku sudah tahu semua tentang hal-hal positif dan negatif dari teknologi yang dia gunakan melalui berita-berita yang dia baca ataupun tonton tetapi tetap dilakukannya. Ini namanya mencari masalah. Sama seperti Om Suryo yang selalu diminta pendapatnya untuk mengecek keaslian sebuah foto ataupun video, demikian juga dengan status FB tersebut mudah sekali untuk ditelusuri siapa orang yang sedang diperbincangkan tersebut. Atau memang dia tak peduli karena sudah terbakar emosi ataupun masabodoh terhadap resiko yang akan diterimanya.

Facebook secara tidak langsung melatih kita untuk semakin sensitive terhadap komentar-komentar yang ada.  Masalah yang muncul karena update status tersebut berupa tulisan, yang sering ditafsirkan berbeda oleh orang yang berbeda pula, ada yang bermaksud bercanda, tetapi diterima sebagai sebuah penghinaan, ada yang bermaksud memberi nasehat, tetapi diterima sebagai ejekan, ada yang bermaksud memberi pendapat, dibilang “sok bijak”. Dari rasa sensitifitas inilah, seseorang sering merasa dilecehkan atau tidak, dikritik atau tidak, dinasehati atau tidak. Jika status kita ditanggapi dengan negatif, siap-siaplah untuk menambah jumlah orang yang tidak senang dengan kita, kalau ditanggapi dengan positif, yang sudah, begitu saja (maksudnya teman kita jumlahnya tetap, tetapi kalau tidak, teman kita berkurang, yang tidak senang dengan kita bertambah).

Yang paling tepat dilakukan pada saat kita mem-posting sesuatu adalah seperti yang disampaikan pada www.internetsehat.org , yaitu “Think Before Posting”, berpikirlah terlebih dahulu sebelum mem-publish postingan anda. Yang paling aman sebenarnya adalah jangan pernah menjelek-jelekkan, melecehkan, mengintimidasi, ataupun melukai hati seseorang.


 

Thursday, November 11, 2010

Apa Gunanya ?


Apa gunanya tinggal di rumah yang besar dengan fasilitas yang lengkap, tapi tidak nyaman untuk ditinggali;

Apa gunanya tinggal di kota besar, tapi tidak bisa menikmati semua fasilitas yang ada di kota tersebut;

Apa gunanya kita bersikap seperti orang dewasa, tetapi hidup dengan penuh penderitaan karena kedewasaan itu;

Apa gunanya berdoa jika hanya di bibir saja, tidak ada kehadiran hati saat mengucapkannya;

Apa gunanya kita bersungut-sungut, padahal hanya membuat perasaan semakin tidak nyaman;

Apa gunanya berpendidikan tinggi, tetapi tidak bisa dibagikan kepada yang lain;

Apa gunanya berbicara, berteriak, jika tidak ada yang mendengar;

Kedewasaan yang semu hanya menimbulkan penderitaan. Menjadi diri sendiri dan mensyukuri apapun yang terjadi adalah yang terbaik.

Friday, October 30, 2009

SNI, BELKI BOLANG, SILAU MEN

Para supir ojek demo terhadap salah satu pasal di UU No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pada pasal 107 ayat 8 :"Setiap orang yang mengemudikan sepeda motor dan penumpang sepeda motor wajib mengenakan helm yang memenuhi Standar Nasional Indonesia". Biasa memakai helm "proyek" yang notabene murah dan ringan, tiba-tiba diharuskan menggunakan helm yang mahal dan berat, tentunya mereka merasa keberatan. Padahal helm Standar Nasional Indonesia itu sudah umum sebenarnya digunakan di beberapa kota besar di Indonesia. Pemerintah bermaksud baik dengan mengeluarkan pasal tersebut karena kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan kematian terjadi paling banyak disebabkan oleh benturan di kepala. Kepala merupakan salah satu organ tubuh yang paling penting di tubuh manusia, jadi mungkin saja para ojek maupun masyarakat yg keberatan menggunakan helm SNI itu menganggap kepala mereka tidak penting karena isi kepala mereka tidak ada yang penting menurut mereka. Menggunakan helm "proyek" seperti yang kebanyakan digunakan pengendara sepeda motor di kota-kota kecil, pada saat kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi pasti mengakibatkan helm tersebut lepas dari kepala kita, akibatnya konsentrasi mengemudi terganggu karena secara refleks pasti salah satu tangan digunakan untuk menangkap helm tersebut.

Dua alasan mengapa masyarakat enggan menggunakan helm SNI adalah tidak punya uang untuk membeli dan tidak nyaman menggunakannya. Fenomena maraknya perusahaan pembiayaan yang memberikan kredit untuk membeli sepeda motor dengan syarat yang mudah membuat jumlah sepeda motor meningkat pesat di beberapa kota. Untuk membayar kredit saja sudah setengah mati, apalagi membeli helm yang "mahal".

Peraturan yang sampai saat ini membingungkan masyarakat adalah pasal 112 ayat 3 :"Pada persimpangan jalan yang dilengkapi alat pemberi isyarat lalu lintas, pengemudi kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh rambu lalu lintas atau alat pemberi isyarat lalu lintas". Nah, sosialisasi akan pasal ini dirasakan sangat minim di masyarakat. Masyarakat yang selama ini sudah terbiasa dengan aturan belok kiri boleh langsung (belki bolang) jadi aturan yang baru ini. Jadi sekarang si belki sudah tidak bolang lagi, udah sipit kali. Dari sosialisasi yang pernah dilakukan oleh pemerintah melalui Metro TV beberapa bulan yang lalu, mereka mengatakan untuk simplenya, kalau tidak ada marka jalan yang memperbolehkan boleh belok yah jangan belok. Tapi sampai saat ini, marka-marka jalan yang lama belum diganti atau dicopot, apakah memang marka tersebut tetap berlaku atau aparat lupa mencopotnya.

Satu lagi aturan yang kurang masyarakat pahami, khususnya di daerah-daerah yang tingkat kepadatan lalu lintasnya sedikit, apa sebenarnya fungsi dari menyalakan lampu utama pada siang hari seperti yang tertulis di UU No 22 Tahun 2009 pasal 107 ayat 2. Apakah memang fungsinya agar mobil ataupun kendaraan bermotor menyadari bahwa dibelakang kendaraan mereka ada kendaraan yang lain. Disadari memang melalui kaca spion kendaraan bermotor kita cahaya lampu itu akan mencolok, terutama pada saat banyak kabut asap. Apakah ada fungsi lainnya selain hal tersebut, karena kalau hanya itu banyak pengemudi di daerah-daerah kurang merasakan manfaatnya dibandingkan dia harus sering mengganti bola lampu kendaraannya karena sering digunakan.


Untuk itu, aturan-aturan yang baru dari UU No 22 Tahun 2009 tersebut harus lebih disosialisasikan secara massive, karena pada dasarnya penggunaan helm SNI sangat melindungi keselamatan jiwa pengendara dan aturan yang ada dibuat untuk melindungi semua pengguna jalan raya. Sebagai warga negara yang baik tentunya kita harus patuh terhadap hukum, tetapi hendaknya kita sebagai masyarakat bukan mematuhinya bukan karena keterpaksaan (takut ditilang), tetapi karena kesadaran bahwa mengikuti aturan-aturan tersebut akan menyelamatkan nyawa kita yang berharga.

Thursday, September 3, 2009

Serumpun


Jika kumelihat "proton" melintas, ingin rasanya aku melemparinya.
Aku akan menyambut wisatawan Malingsia dengan berpakaian batik dan tari pendet.
Kuajak berwisata ke Pulau Nusakambangan bilamana mereka berniat untuk mengklaimnya untuk menjadi tempat menetap mereka.
Bila kubertemu seniman/artis Malingsia aku akan menyanyikan lagu "Terang Bulan" agar mereka merasa berada di negara mereka saat berkunjung ke Indonesia-ku tercinta.
Saat mereka kembali ke negara mereka, kan kuberikan Keris sebagai cenderamata untuk mereka.

Friday, August 28, 2009

The Truth


Kebenaran tidak ditemukan dalam rumusan, atau dalam jumlah, tidak ditemukan dalam nama atau didalam simbol, dalam teori-teori atau dalam kata-kata, dalam slogan-slogan, dalam plakat-plakat, dalam ketentuan-ketentuan atau tanda kehormatan. Tidak juga ditemukan dalam statistik, dalam logika atau dalam abstraksi. Kebenaran dapat berubah. Itu dapat menjadi relatif. Itu konkret, tetapi tidak dapat diukur. Kebenaran adalah sesuatu yang sesungguhnya kaulakukan. Paling baik dinyatakan dalam diam, dan menuntut pencapaian semangat manusiawi yang tinggi, pikiran terbuka dan hati yang tidak kenal takut. Kebenaran yang membebaskan kita hampir selalu kebenaran yang tidak mau kita dengar. Maka bila kita berkata sesuatu tidak benar, apa yang terlalu sering kita maksudkan adalah "Saya tidak senang dengan itu". Kejelasan tidak berkurang karena sikap sopan santun dan bentuk-bentuk ekspresi kultural. Kadang-kadang disembunyikan oleh keadaan yang sebenarnya dan kadang-kadang dinyatakan oleh kebohongan, tetapi selalu ada resiko. Orang yang tahu, tidak mengatakan. Orang yang mengatakan, tidak tahu. Oleh karena itu orang yang bijaksana diam, orang yang pandai berbicara, orang yang bodoh membantah. (Anthony de Mello SJ)
Kebenaran adalah laksana bintang-bintang, ia tidak tampak kecuali terlihat dari remang-remang malam. Kebenaran adalah laksana segala sesuatu yang indah di dunia, ia tidak menampakkan sifat-sifat indahnya kecuali kepada mereka yang pertama-tama merasakan pengaruh dari kepalsuan. Kebenaran adalah kebaikan yang mendalam yang mengajari kita agar kita bisa merasakan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari dan agar kita bisa berbagi kebahagiaan yang sama dengan orang lain. Mereka yang mencari kebenaran dan menyatakan kebenaran itu kepada umat manusia menjadi siap untuk menderita. Kebenaran memanggil-manggil kita, didorong oleh gelak tawa murni seorang bocah, atau kecupan seorang kekasih yang dicintai, tetapi kita menutup pintu-pintu kasih sayang pada wajahnya dan kita berhubungan dengan dia bagai berhubungan dengan seorang musuh. (Kahlil Gibran)
Mengasihi tetangga, walaupun agamanya lain. Mengasihi tetangga, walaupun ia memilih parpol yang lain. Mengasihinya, karena ia patut dikasihi. Inilah Kebenaran. Kebenaran tidak pernah memecah belah. Kebenaran selalu mempersatukan. (Anand Krishna)
Kebenaran memang terkadang menyakitkan, tetapi tidak bisa dijadikan alasan untuk mengambil nyawa apapun dengan alasan apapun. (Ricky)

Friday, August 7, 2009

Motivasi dan Korupsi


Faktor apakah yang sebenarnya dapat meningkatkan produktivitas kerja pegawai negeri sipil?
Apakah pemberian tunjangan, walaupun kerja ga kerja dapat juga?
Apakah penghargaan, tetapi diperoleh hanya karena kedekatan dengan pihak-pihak tertentu, bukan karena prestasi?
Apakah karena gaji, karena sudah merupakan kewajiban seorang pegawai?
Apakah himbauan-himbauan dari pimpinan agar stafnya semangat bekerja?


Di lingkungan pemerintahan sudah dikenal istilah "pintar bodoh penghasilan sama". Kerja ga kerja penghasilan yang diperoleh sama. Apa yang bisa diharapkan seorang pegawai dengan dia bekerja dengan sungguh-sungguh kecuali jika prestasi diklaim milik pimpinan, dan kegagalan adalah kesalahannya. Yang dibutuhkan pimpinan hanyalah orang-orang yang loyal padanya, walaupun orang itu tidak punya kemampuan apa-apa kecuali kemampuan untuk "loyal" dibodoh-bodohin, didzolimi, dll.


Sepertinya untuk mengembalikan motivasi kerja harus dimulai dari pimpinan itu sendiri. Pimpinan jangan hanya mendengar dan menilai dari para pembisiknya saja. Nilai kinerja pegawai, jangan hanya mengandalkan DP3 yang selama ini digunakan, karena DP3 hanya merupakan formalitas saja. Harus dibuat instrumen pengganti DP3 yang benar-benar dapat menilai kinerja pegawai. Beri penghargaan bagi yang berprestasi, hukum bagi yang melalaikan tugasnya, dalam hal ini "Tunjangan Kinerja", karena tunjangan yang diberikan selama ini "sangat merata", maksudnya yang tidak bekerja maupun yang tidak berprestasi jumlah yang diperolehnya sama dengan yang bekerja. Seorang pimpinan seharusnya tahu tentang kinerja bawahannya, karena bila tidak dia bukanlah pimpinan yang baik.


Sistem proyek di anggaran pemerintahan juga merupakan salah satu faktor yang menentukan motivasi kerja pegawai. Jika proyek tersebut besar, dan yang lebih penting lagi bisa dikorupsi dengan tidak terlalu sulit, maka semua orang akan berebut mengambil proyek tersebut. Sayang seribu kali sayang, ternyata walaupun dia yang menangani proyek tersebut, pimpinan proyek dan anggotanya pun tidak mendapatkan apa-apa selain honor proyek yang tertera saja (bagus sih, karena dia tidak korupsi). Dan lebih celakanya lagi, pimpinan kantor tidak mementingkan output dari proyek tersebut, yang penting ada. Bayangkan saja, seseorang sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikan proyek tersebut, ternyata tahap finalisasinya hanya diperintahkan dibuat sekedarnya saja padahal dana yang ada bisa dibuat untuk menghasilkan output yang sangat bagus. Tentu saja, bila bagus, harga tinggi, uang untuk dikorupsi menjadi lebih sedikit. Uang rakyat dihabiskan begitu saja, dan terlebih lagi menghancurkan semangat dan motivasi kerja PNS yang muda. Tak heran kondisi seperti ini terus berlanjtu, karena memang secara tidak sadar sudah dikondisikan untuk membuat PNS itu malas dan bodoh.


Korupsi itu salah, itu pasti, tapi hendaknya jangan kebablasan. Perhatikan juga outputnya, perhatikan kualitasnya, jangan hak rakyat maupun hak pegawai pun diambil. Sudah capek kerja, honornya pun dipotong dengan alasan yang sebenarnya tidak masuk akal. Bagaimana pegawai punya motivasi untuk bekerja. Jadi sebaiknya sistem proyek di pemerintahan dihapuskan saja karena merupakan ajang korupsi, ganti dengan pemberian Tunjangan Kinerja. Jadi siapa yang bekerja, dia yang mendapatkan hasilnya.


Yang terpenting istilah "pintar bodoh, kerja ga kerja penghasilan sama" harus dihilangkan. Hargai pekerjaan siapa saja, niscaya motivasi kerja pasti meningkat.

Friday, June 19, 2009

Regional/District Press Function on Indonesia Presidential Election 2009




Press according to Law No. 40 year 1999 about press is the social institution and people communication media to do journalist activities including searching, getting, owning, keeping, processing and telling the information in the form of writing, voice, picture, voice and picture also data and graph or in the other form using printing media, electronic media and all the available channel, including online media.


The function of press as the information media, social control and entertainment, not less important is the education function. The press elements are not concern about this function. For example, how to use indonesian in the right and good place according to the structure of indonesia language, so that the critique can be delivered in the proper way.


We need press function because the press independence is one of the democracy materialization and the most important element in the live of democratic people. That's why the law quarantees the press independence, they have rights to search, get and deliver their ideas and information because they have the responsibility in reporting by law, and the reporter has the refuse right.
Concerning the role and function of press as describe before, we can deny that the press can create the public opinion before the 2009 election comes. The influence is so strong. Report, paper or press release can influence the voters, from supporting became not supporting, vice versa.


The public opinion not only promoting the president or vice president candidate figure that the politic parties or the political party consolidation suggestion, but also explain who is the president and vice president candidate are. Not only the backgroung of each candidate, but also their formal education and their vision and mission. So do the individual capable and their ideas to develop Indonesia to prosperity.


Press should expose the quality of president and vice president candidate in one side, meanwhile from the other side press is asking to have responsibility in increasing the quality of the regional/district voters. If the quality of the voters increasing, it can be sure that the horizontal conflict among supporters before and after the election will not happened.

Friday, May 29, 2009

The Good God The Evil God



The Good God and the Evil God met on the mountain top.
The Good God said, “Good day to you, brother”.
The Evil God made no answer.
And the Good God said, “You are in a bad humor today”.
“Yes”, said the Evil God, “for a late I have been often mistaken for you,
called by your name, and treated as if I were you, and it ill-pleases me”.
And the Good God said,“But I too have been mistaken for you and called by your name”.
The Evil God walked away cursing the stupidity of man.


The Mad Man - Khalil Gibran


Many people do the crime, killing, war in the name of their God. “We do this in God’s will, they say” We have to defend our God. The death people in defending God or religion are acceptable. When the victims are carrying the pain because of them in the rest of their life, the actors do not feel guilty at all. Do will the God wants human to be suffered in defending Him? It is so perplexing because no matter whose God it is, for sure He is The Almighty God, have power beyond death and life. So, what is the power of man that has no power to defend The One who is actually has the mighty power.
This is when The Good God becomes The Evil God and The Evil God becomes The Good God.